Warren Buffett Soroti Lonjakan Belanja AI Raksasa Teknologi

Smallest Font
Largest Font

Legenda investor Warren Buffett mengkritik pengeluaran fantastis raksasa teknologi untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang mencapai ratusan miliar dolar AS. Dalam wawancara dengan CNBC pada Juli 2026, ia menyamakan lonjakan alokasi dana tersebut dengan era pembangunan rel kereta api abad ke-19 yang sarat spekulasi.

Proyeksi menunjukkan total belanja modal empat perusahaan teknologi besar—Meta, Microsoft, Amazon, dan Alphabet—dapat menyentuh 750 miliar dolar AS sepanjang 2026 serta berpotensi menembus 4,5 triliun dolar AS pada 2030. Nilai investasi fisik dan komputasi ini bahkan tercatat melampaui gabungan anggaran proyek Apollo, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dan Proyek Manhattan.

Buffett menilai pengeluaran skala besar seperti yang terjadi di sektor AI saat ini belum pernah dilakukan pada era software.

"Bersama Google dan semua pesaingnya sekarang, mereka mengeluarkannya ratusan miliar dolar. Itu uang nyata... Uang sebanyak itu bahkan tidak dimasukkan ke dalam bisnis rel kereta api.

Dan itulah permainan yang mereka mainkan sekarang. Mereka tidak memainkan permainan itu dengan perangkat lunak komputer," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Meskipun sempat menghindari saham teknologi, Berkshire Hathaway memutuskan membeli 17,85 juta saham Alphabet pada November 2025 dan menambah investasi senilai 10 miliar dolar AS pada Juni 2026. Langkah ini diambil karena Alphabet dinilai memiliki arus kas yang kuat untuk menopang pergeseran ke infrastruktur fisik AI.

Di samping manuver di sektor AI, strategi dana simpanan Berkshire Hathaway tetap menjadi perhatian pasar. Laporan finance.yahoo.com mencatat rekor akumulasi kas perusahaan mendekati 400 miliar dolar AS ketika Indikator Buffett menembus angka 230 persen, melewati batas puncak gelembung dot-com tahun 2000 yang sebesar 140 persen.

Prinsip kehati-hatian tersebut sejalan dengan fondasi pengelolaan keuangan yang terus ditekankan oleh sang investor.

"Aturan pertama adalah jangan pernah kehilangan uang. Aturan kedua, jangan pernah melupakan aturan pertama," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Untuk meminimalkan risiko kerugian permanen akibat fluktuasi, Buffett memegang teguh batas kapasitas analisis dan penghitungan nilai intrinsik sebelum membeli aset.

"Risiko muncul ketika Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda lakukan," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Perbedaan antara harga pasar dan estimasi nilai perusahaan menjadi ruang pengaman utama dalam setiap transaksi.

"Harga adalah apa yang Anda bayar, sedangkan nilai adalah apa yang Anda peroleh," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Pendekatan berbasis nilai ini juga mendorong kepemilikan aset dalam jangka panjang tanpa terpengaruh gejolak harian bursa.

"Periode kepemilikan favorit kami adalah selamanya," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Buffett menekankan pentingnya benteng pertahanan bisnis, seperti merek atau efisiensi biaya, yang dapat melindungi perusahaan dari persaingan.

"Dalam bisnis, saya mencari kastel ekonomi yang dilindungi parit pertahanan yang tidak dapat ditembus," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Cadangan kas dalam jumlah besar selalu disiapkan Berkshire Hathaway guna merespons peluang saat koreksi pasar terjadi.

"Kas yang dipadukan dengan keberanian saat krisis adalah sesuatu yang tak ternilai," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Kesabaran dan kedisiplinan dianggap sebagai pilar utama untuk menghindari keputusan investasi yang terburu-buru.

"Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada mereka yang sabar," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Penggunaan utang secara berlebihan juga dihindari demi menjaga ketahanan finansial jangka panjang.

"Jangan pernah mempertaruhkan apa yang Anda miliki dan butuhkan demi memperoleh sesuatu yang tidak Anda miliki dan sebenarnya tidak Anda perlukan," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Bagi investor ritel, Buffett menyarankan strategi Aturan 90/10 melalui alokasi 90 persen dana pada reksa dana indeks S&P 500 berbiaya rendah dan 10 persen pada obligasi pemerintah jangka pendek. Dalam surat tahunan 2013, ia menyebut investor awam tidak memerlukan analisis rumit untuk meraih keuntungan dari pertumbuhan ekonomi.

"Investor biasa tidak butuh keahlian rumit itu. Secara keseluruhan, bisnis di AS telah berkinerja sangat baik dari waktu ke waktu dan akan terus begitu," ujar Warren Buffett, Investor Legendaris.

Pesan efisiensi dan tata kelola tersebut dinilai kian krusial di tengah integrasi teknologi AI di dunia kerja. Dilansir dari MoneyLion pada Juli 2026, integritas sumber daya manusia menjadi filter utama saat efisiensi eksekusi meningkat pesat.

"Kami mencari tiga hal saat merekrut orang (yaitu) kecerdasan, inisiatif atau energi, dan integritas. Jika mereka tidak memiliki faktor yang terakhir (integritas), dua faktor pertama justru akan menghancurkan Anda. Sebab, jika Anda mempekerjakan orang tanpa integritas, Anda tentu lebih menginginkan mereka tidak kompeten," kata Warren Buffett, Investor Legendaris.

Sebagai bentuk pembanding dari industri AI, CEO OpenAI Sam Altman memberikan gambaran mengenai kebutuhan sumber daya pemrosesan teknologi tersebut.

"Juga dibutuhkan banyak energi untuk melatih seorang manusia," ujar Sam Altman, Chief Executive Officer OpenAI.

Riset Spiva Scorecard mencatat lebih dari 80 persen manajer investasi aktif gagal melampaui kinerja indeks S&P 500 dalam jangka 10 hingga 15 tahun, yang memperkuat dorongan penggunaan strategi investasi pasif.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed