WHO Menetapkan Status Darurat Global Terkait Wabah Ebola di Kongo
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola akibat strain langka Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) pada Senin (18/5/2026).
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia merespons keputusan tersebut dengan memperketat pengawasan di pintu masuk negara guna mengantisipasi risiko penyebaran lintas wilayah meskipun potensi penularan di dalam negeri dinilai masih rendah.
Hingga pertengahan Mei 2026, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan adanya 336 kasus suspek dengan akumulasi korban meninggal dunia mencapai 88 orang. Wabah ini bersumber dari wilayah pertambangan Mongwalu, Provinsi Ituri, Kongo timur, yang kemudian menyebar akibat mobilitas pasien yang mencari pengobatan hingga ke luar daerah termasuk Uganda.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan bahwa pemantauan intensif terus dilakukan bersama jejaring kesehatan internasional.
"Penetapan dilakukan karena adanya penyebaran lintas wilayah dan lintas negara, tingginya tingkat kematian, serta masih adanya ketidakpastian kondisi dan luas penyebaran wabah," kata Aji.
Pemerintah Kongo, Uganda, dan WHO telah mengaktifkan pusat operasi darurat, mengerahkan tim ahli, melakukan pelacakan kontak, serta mendistribusikan logistik medis di area terdampak.
"Selain di RD Kongo, dilaporkan juga kasus terkait perjalanan (impor dari Kongo) di Kampala, Uganda, dan Kinshasa. WHO menilai kondisi keamanan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak meningkatkan risiko penyebaran regional," ucapnya.
Strain Bundibugyo yang menginfeksi warga saat ini tergolong langka dan belum memiliki pengobatan spesifik maupun vaksin berlisensi yang disetujui untuk penanganan massal.
"Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang terkontaminasi dari manusia maupun hewan yang terinfeksi yang masuk melalui kulit atau selaput lendir manusia," ujarnya.
Langkah preventif di Indonesia diwujudkan melalui kesiapan deteksi dini dan penyediaan rumah sakit rujukan bagi pelaku perjalanan dari negara terdampak yang menunjukkan gejala klinis.
"Peningkatan pengawasan pelaku perjalanan terutama dari negara outbreak dengan menyiagakan petugas dan jika ditemukan kasus suspek maka dirujuk ke RS rujukan sesuai tata laksana kasus penyakit menular dan dilaporkan ke Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau melalui Public Health Emergency Operation Center (PHEOC)," katanya.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik mengingat karakteristik penularan virus ini membutuhkan kontak fisik yang sangat erat, berbeda dengan virus yang menyebar melalui udara.
"Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada. Ikuti perkembangan kasus global dan nasional melalui berbagai media. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan pakai air dan sabun, menggunakan masker bila sakit, menerapkan etika bersin dan batuk," kata Aji.
Pakar epidemiologi dari Griffith University Dicky Budiman mengingatkan bahwa tingkat fatalitas dari infeksi ini tetap wajib diwaspadai karena memiliki rentang persentase yang cukup besar.
"Artinya kalau ada 10 yang sakit, 9 meninggal. Yang paling buruk ya, ini tergantung strain dan kapasitas layanan kesehatan," ujar Dicky.
Dicky menambahkan bahwa pintu masuk udara dan laut menjadi titik krusial pengawasan bagi Indonesia terhadap potensi masuknya kasus impor.
"Risiko masuk ke Indonesia terutama lewat penerbangan internasional yang transit, pekerja migran, pelaut, pelaku perjalanan bisnis, ataupun kasus impor yang tidak terdeteksi," jelasnya.
Karakteristik virus yang membutuhkan kontak langsung membuat lokalisasi penanganan kasus baru diprediksi akan berjalan lebih efektif jika sistem deteksi dini berfungsi optimal.
"Dan biasanya kalau pun terjadi outbreak lebih mudah dilokalisasi kalau kalau cepat terdeteksi dan responsnya cepat," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow