Badan Pangan Nasional Stabilkan Harga Cabai Rawit Lewat FDP

Smallest Font
Largest Font

Harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp 90.050 per kilogram, menyusul kenaikan tajam cabai merah keriting mencapai Rp 62.950 per kilogram, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia.

Kenaikan harga ini memicu Badan Pangan Nasional untuk mengupayakan distribusi stok dari daerah surplus ke daerah defisit melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), yang sebelumnya efektif menekan harga cabai.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pentingnya respons cepat terhadap fluktuasi harga cabai rawit, terutama yang terjadi di Kediri.

"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," ujar Ketut.

Ketut menjelaskan keterlibatan petani Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian sangat berperan dalam menstabilkan harga dengan mengalirkan pasokan ke daerah yang harga cabainya fluktuatif.

"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," tambahnya.

Badan Pangan Nasional mencatat pada triwulan pertama 2026, FDP cabai rawit berhasil memobilisasi total 5.590 kilogram stok ke daerah seperti Jakarta dan Lombok, yang berdampak pada penurunan inflasi pangan pada April 2026.

Dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, beberapa faktor penyebab fluktuasi harga di antaranya kemarau panjang, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam ke komoditas lain.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, memastikan produksi cabai rawit nasional aman hingga akhir tahun dengan produksi sekitar 119 ribu ton pada September 2026.

"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," jelas Sudi.

Dia menambahkan produksi cabai rawit di Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang, yang diharapkan dapat mengatasi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru.

"Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," tambahnya.

Sudi juga menyatakan kesiapan petani cabai rawit binaan Kementan untuk mendukung program pemerintah dalam menstabilkan harga cabai rawit melalui FDP.

"Nah seandainya nanti ada program pemerintah untuk dapat melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, artinya dari produksi yang ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi," ujar Sudi.

Berita ini dilansir dari Detik Finance.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed