Gempa M 7,7 Terjang NTT Korban Meninggal Capai 83 Orang

Smallest Font
Largest Font

Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang menerjang Nusa Tenggara Timur memicu lonjakan jumlah korban jiwa hingga mencapai 83 orang serta merusak 44.946 rumah warga berdasarkan data penanganan darurat per Jumat, 21 Agustus 2026.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat peningkatan skala dampak bencana yang luas di berbagai wilayah terdampak. Selain menelan korban jiwa, jumlah korban luka-luka melonjak menjadi 986 orang, sementara warga yang berada di pengungsian membengkak hingga mencapai 110.785 jiwa.

Kerusakan fisik bangunan kediaman masyarakat mencakup 17.176 unit rusak berat, 9.758 unit rusak sedang, dan 18.013 unit mengalami rusak ringan. Wilayah Kabupaten Manggarai Timur menjadi daerah dengan tingkat kerusakan terparah, disusul oleh Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Barat.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi perkembangan penanganan medis dan penambahan jumlah penanganan darurat di lapangan.

"Untuk sektor kesehatan, kami bisa sampaikan bahwa saat ini Kapal Republik Indonesia Soeharso 990 telah bersandar di Pelabuhan Reo," kata Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Fasilitas medis bergerak milik TNI Angkatan Laut ini diterjunkan langsung guna memberikan pelayanan tindakan medis darurat berskala besar bagi para penyintas bencana di sekitar wilayah perairan penugasan.

"Kapal bantuan rumah sakit tersebut milik TNI Angkatan Laut mampu melaksanakan operasi besar terhadap pasien dan juga memiliki ruang rawat inap yang dapat menampung hingga 75 pasien," ujarnya.

Pemerintah turut mengoperasikan berbagai pos kesehatan di pusat-pusat penampungan warga guna mengantisipasi penanganan medis harian, seperti di Desa Pota yang melayani hingga 120 pasien tiap harinya.

"Selain itu, pemerintah juga mengaktifkan pos-pos kesehatan di titik-titik pengungsian, salah satunya pelayanan kesehatan di pos pengungsian terpusat Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, yang melayani 90 sampai 120 pasien setiap hari," katanya.

Eskalasi jumlah korban jiwa tercatat bertambah delapan orang dari pelaporan hari sebelumnya, di mana korban tambahan tersebut menghembuskan napas terakhir akibat dampak tidak langsung dari peristiwa gempa.

"Pada hari ini pada pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026, jumlah yang meninggal menjadi 83 jiwa semula kemarin kami sampaikan 75 jiwa, bertambah 8 jiwa," kata Berton.

Pendataan kategori tingkat kerusakan fisik terus dilakukan secara terperinci oleh posko bencana daerah demi memastikan keakuratan pendistribusian bantuan.

"Saat ini data rumah rusak sebanyak 44.946 unit dengan rincian rusak berat 17.176 unit, rusak sedang 9.758 unit, rusak ringan 18.013 unit," kata Berton.

Kabupaten Manggarai Barat mendata sebanyak 3.050 unit rumah rusak berat, Kabupaten Manggarai mencapai 3.146 unit, dan Manggarai Timur mencatatkan angka 5.962 unit.

"Di Manggarai Barat ada 3.050 unit rusak berat, di Manggarai ada 3.146 unit, di Manggarai Timur 5.962 unit. Ini adalah tiga terbesar dampak rumah rusak berat akibat gempa," tutur Berton.

Mekanisme pendaftaran identitas pemilik serta lokasi rumah warga terdampak terus diverifikasi oleh tim gabungan di lapangan.

"Rumah rusak berdasarkan tingkat kerusakannya akan tetap ditetapkan berdasarkan by name, by address atau berdasarkan nama dan alamat para warga yang terdampak akibat bencana," kata dia.

Sektor pendidikan mengalami kelumpuhan akibat 1.378 satuan pendidikan terdampak, dengan 502 sekolah di antaranya hancur berat pascaguncangan gempa yang terjadi sejak Sabtu, 15 Agustus 2026.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menguraikan data korban dari lingkungan warga sekolah dalam kesempatan konferensi pers virtual.

"Tiga di antaranya peserta didik dan satu tenaga pendidik yang meninggal dunia, serta 38 ribu warga sekolah yang mengungsi," ujar Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kondisi bangunan fisik sekolah yang mengkhawatirkan memaksa penyesuaian moda pembelajaran jarak jauh demi menekan risiko keselamatan siswa dari ancaman gempa susulan.

"Gempa bumi berdampak pada 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat," tuturnya.

Kemendikdasmen memprioritaskan keamanan jiwa anak-anak sekolah dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke area aman dan tempat pengungsian.

"Pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai akibat gempa susulan yang terus berlangsung," imbuh Wamendikdasmen.

Penyediaan sarana belajar darurat disiapkan melalui penyaluran tenda-tenda ruang kelas sementara yang digalang bersama BNPB.

"Saat ini akan didistribusikan tenda yang diharapkan dapat mulai digunakan sebagai ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami rusak berat," pungkasnya.

Sementara itu dilansir dari Kompas.id, para pengungsi di Lapangan Barangkolong, Desa Mata Air, Kabupaten Manggarai, mendesak pemenuhan logistik bahan makanan pokok karena bantuan bahan mentah yang diterima masih sangat terbatas untuk diolah secara mandiri.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed