Ribuan Dosen UC Desak Pengembalian Tes Terstandar SAT dan ACT

Smallest Font
Largest Font

Ribuan dosen di 10 kampus University of California (UC), termasuk lima peraih Nobel, mendesak pihak universitas untuk memberlakukan kembali tes terstandar SAT dan ACT dalam penerimaan mahasiswa baru. Desakan ini dipicu oleh temuan dosen yang harus mengajarkan materi aljabar dasar tingkat SMP kepada mahasiswa baru yang tertinggal hingga delapan tahun dalam kemampuan matematika, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Selasa (18/8/2026).

Krisis kesiapan akademis ini dilaporkan terjadi secara luas di berbagai kampus UC pasca-penghapusan syarat tes terstandar yang dimulai saat pandemi. Laporan resmi Senate-Administration Workgroup on Admissions UC San Diego tertanggal 8 Januari 2026 mengungkapkan bahwa antara tahun 2020 dan 2025, jumlah mahasiswa dengan kemampuan matematika di bawah tingkat SMA melonjak hampir 30 kali lipat, di mana 70 persen di antaranya berada di bawah tingkat SMP.

Dosen Matematika UC Berkeley, Zvezdelina Stankova, mengungkapkan beban pengajaran yang ia hadapi dalam artikel opininya di The San Francisco Standard.

"Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP," kata Stankova.

Stankova menegaskan bahwa ketidaksiapan akademis mahasiswa baru bukan sekadar kasus isolasi di satu program studi atau satu kampus saja.

"Ini bukan cuma cerita satu profesor atau masalah satu kampus," ujarnya.

Ia menyoroti laporan akademis dari UC San Diego yang mencatatkan penurunan drastis pada kemampuan dasar mahasiswa baru selama lima tahun terakhir.

"Selama lima tahun terakhir, UC San Diego mengalami penurunan tajam dalam kesiapan akademis mahasiswa baru-terutama dalam matematika, tetapi juga dalam keterampilan menulis dan berbahasa. Antara tahun 2020 dan 2025, jumlah mahasiswa yang kemampuan matematikanya di bawah tingkat sekolah menengah atas meningkat hampir tiga puluh kali lipat," tulis laporan tersebut.

Laporan yang sama membeberkan proporsi mahasiswa yang mengalami kendala pemahaman tingkat dasar secara signifikan.

"Terlebih lagi, 70% dari mahasiswa tersebut berada di bawah tingkat sekolah menengah pertama, mencapai sekitar 1 dari 12 anggota kelompok mahasiswa baru," sambungnya.

Stankova menerangkan bahwa penghapusan SAT dan ACT semula ditujukan untuk memberi ruang kesetaraan saat pandemi mengganggu iklim pendidikan. Namun, sejumlah kampus ternama seperti MIT, Stanford, Harvard, dan Yale telah mengembalikan syarat tes terstandar tersebut, sementara pihak UC berencana menunda evaluasi kebijakan penerimaan hingga Juni 2027 yang berpotensi baru diterapkan pada musim gugur 2028.

"MIT, Stanford, Harvard, dan Yale, semuanya menangguhkan persyaratan hasil tes terstandar selama pandemi. Semuanya telah memberlakukannya kembali. Di seluruh Ivy League, perubahan serupa sedang terjadi. UC sedang bergerak sebaliknya," tulis Stankova.

Ia mengkritik penundaan kebijakan penerimaan baru yang dinilai sangat merugikan angkatan mahasiswa yang sedang menempuh studi saat ini.

"Senat Akademik sekarang merencanakan peninjauan yang akan selesai pada Juni 2027, yang berarti tidak ada kebijakan penerimaan baru yang dapat berlaku sebelum musim gugur 2028.Mahasiswa tidak punya waktu sebanyak itu: mereka hanya kuliah sekali!," sesalnya.

Penghapusan tes terstandar berpotensi meloloskan calon mahasiswa yang belum siap, seperti kasus mahasiswa bernama samaran Elias yang diterima di jurusan teknik walau lemah di bidang matematika. Sebaliknya, pendaftar seperti Nadia yang telah menyelesaikan mata kuliah Kalkulus II dan STEM tingkat perguruan tinggi justru tidak lolos seleksi. Penurunan kemampuan diagnostik juga terlihat di UC Berkeley, di mana persentase mahasiswa Kalkulus I yang siap belajar merosot dari 71 persen pada periode 2018–2020 menjadi 44 persen pada 2023.

Stankova membeberkan bahwa data ujian diagnostik periode 2021 hingga 2023 menunjukkan minimnya penguasaan materi dasar kalkulus pada sebagian besar mahasiswa.

" Hanya 0,14% yang diuji berada di bawah tingkat aljabar dasar," ungkapnya.

Kondisi penguasaan matematika mahasiswa baru tercatat terus memburuk pada tahun-tahun berikutnya.

"17 persen siswa tidak menjawab satu pun dari delapan topik diagnostik dengan benar. Pada tahun 2022-2023, lebih dari sepertiga siswa mengalami kekurangan pemahaman akan matematika yang parah, dan nilai yang paling umum pada ujian tersebut adalah nol," ujarnya.

Perubahan kondisi ini memaksa pengajar untuk membagi fokus pengajaran di dalam kelas guna menangani dua kelompok mahasiswa dengan tingkat pemahaman yang jauh berbeda.

"Kami menyaksikan mahasiswa berjuang memahami materi yang seharusnya sudah mereka kuasai bertahun-tahun sebelumnya. Kami menghentikan kuliah sejenak untuk mengulang pengajaran persamaan linear, aliyah-alih memperluas pemahaman mahasiswa tentang persamaan diferensial," tulisnya.

Ia menekankan bahwa para pengajar adalah pihak yang berhadapan langsung dengan realitas penurunan standar akademis di ruang kuliah setiap harinya.

"Orang-orang yang memperdebatkan kebijakan ini di TV, dalam rapat komite, dan dalam politik, tanpa mempertimbangkan nilai ujian mahasiswa, tidak berdiri di depan 700 mahasiswa tiga kali seminggu atau memberi nilai ujian tengah semester pertama dengan rata-rata D/F. Kami yang menghadapi mereka," imbuh Stankova.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed