Gojek Luncurkan Program ChamPOINTship untuk Generasi Muda

Smallest Font
Largest Font

Gojek meluncurkan inisiatif ChamPOINTship pada Senin (14/9/2026) untuk mendorong kecakapan digital serta produktivitas pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Program ini menggabungkan edukasi mandiri, kegiatan akademis, kompetisi inovasi, dan pemanfaatan teknologi harian guna menjawab tantangan dinamika dunia kerja berbasis riset OECD 2025.

Head of Transport Marketing Gojek, Mario Alvin, menyatakan bahwa inisiatif tersebut dihadirkan guna memperluas akses serta manfaat teknologi secara terarah bagi generasi muda.

"Melalui Gojek ChamPOINTship, kami mendukung anak muda jadi juara lewat rangkaian aktivitas edukatif untuk mendorong kecakapan mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk produktivitas," ujar Mario Alvin, Head of Transport Marketing Gojek.

Perusahaan juga memperkuat berbagai fitur layanan harian untuk mendukung mobilitas serta kebutuhan akademis para pelajar.

"Kami juga senantiasa memperkuat fitur dan layanan di aplikasi Gojek untuk dapat dimanfaatkan anak muda untuk menunjang aktivitas produktif mereka," kata Mario Alvin, Head of Transport Marketing Gojek.

Sistem pengumpulan poin turut diberlakukan bagi pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan layanan GoRide dan GoFood selama periode Agustus hingga November 2026.

"Sejak Agustus lalu hingga November 2026, setiap penggunaan layanan GoRide untuk aktivitas produktif dari dan ke sekolah/kampus, hingga pembelian makanan melalui GoFood oleh pelajar dan mahasiswa, akan dihitung sebagai poin. Poin tersebut dapat dikumpulkan dan pemenang utama berkesempatan mendapatkan hadiah laptop dan dana pendidikan senilai total Rp20.000.000," jelas Mario Alvin, Head of Transport Marketing Gojek.

Di samping itu, Gojek berkolaborasi dengan Direktorat Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional (DHMPI) Universitas Indonesia (UI) dalam menyelenggarakan kuliah umum dan gelar wicara bertajuk "Game On! Tech Behind Every Win" di Balai Purnomo Prawiro UI.

Direktur DHMPI UI, Dr. Erwin Agustian Panigoro, M.M., menekankan pentingnya peran manusia dalam mengendalikan perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi.

"Penguasaan atas teknologi adalah keharusan. Apabila kita tidak mengendalikannya, maka teknologi lah yang akan mendikte pola pikir kita. Kita dituntut untuk menjadi intentional user, yakni individu yang memanfaatkan canggihnya kecerdasan buatan secara terarah dengan tujuan yang spesifik serta mampu menghasilkan luaran yang nyata.

Bagaimanapun canggihnya perkembangan AI, kedudukan manusia harus tetap menjadi pemegang kendali utama," jelas Dr. Erwin Agustian Panigoro, M.M., Direktur DHMPI UI.

Dari kacamata pelaku industri, Puti Ara Zena menjelaskan bahwa integrasi teknologi harus senantiasa diimbangi oleh pemahaman mendalam dari penggunanya.

"Teknologi pada hakikatnya hadir sebagai enabler dalam mengakselerasi produktivitas. Namun, perlu kita ingat bahwa efisiensi tidak serta-merta mencerminkan pemahaman yang mendalam. Teknologi memang mampu melahirkan efisiensi, tetapi kualitas serta nilai dari hasil akhir tersebut sepenuhnya ditentukan oleh cara manusia mengolah dan mengarahkannya," pangkas Puti Ara Zena.

Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2023, Shakira Amirah, membagikan metode pemanfaatan teknologi secara praktis untuk mendukung aktivitas belajar sehari-hari.

"Kedepankan human touch dan jadikan AI sebagai rekan kolaborasi, bukan instrumen instan untuk menyusun karya kita secara keseluruhan," tutur Shakira Amirah, Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2023.

Kreator konten Aulion menambahkan bahwa aspek emosional tetap menjadi elemen penting dalam pembuatan karya di era kecerdasan buatan.

"Keberadaan AI sangat membantu dalam mengakselerasi proses kreatif mulai dari formulasi ide hingga eksekusi teknis seperti automated subtitle. Namun, seiring berkembangnya teknologi, peran serta human touch justru menjadi makin krusial agar sebuah karya tetap memiliki jiwa dan identitas yang otentik," kata Aulion, Kreator Konten.

Di luar rangkaian kegiatan edukasi, Gojek mengambil langkah tegas terkait pelanggaran standar pelayanan oleh mitra pengemudi GoCar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (11/9/2026).

Head of Media Relations GoTo Group, Amanda Valani, mengonfirmasi tindakan pemutusan hubungan kemitraan terhadap pengemudi bersangkutan pada Selasa (15/9/2026).

"Betul (sudah dilakukan pemutusan mitra). Statement resmi Gojek sudah kami sampaikan di akun kreator tersebut," kata Amanda Valani, Head of Media Relations GoTo Group.

Langkah pemutusan mitra tersebut diambil usai investigasi internal membuktikan adanya tindakan makian dan penurunan penumpang di tengah jalan.

"Seperti yang telah kami sampaikan melalui percakapan kita, berdasarkan hasil investigasi, mitra driver yang bersangkutan terbukti melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan Gojek. Kami telah mengambil tindakan tegas berupa Putus Mitra (PM)," bunyi pernyataan pihak GoTo Group.

Kejadian tersebut berawal dari perselisihan terkait konfirmasi lokasi penjemputan saat penumpang memesan layanan GoCar fitur Hemat.

"Permasalahannya bermulai dari gue telepon dia, mau ambil orderan enggak. Habis itu dia ditelepon udah agak nyolot dengan bilang, 'Lihat aja di Maps, kan gue lagi jalan ke sana'," kata akun @desifyul, Penumpang GoCar.

Pengemudi mengekspresikan kekecewaannya terhadap besaran tarif fitur hemat sebelum akhirnya menurunkan penumpang.

"Ini udah pakai GoCarnya yang hemat, gue cuma dapat berapa, aturan enggak usah banyak ribet," ujar pengemudi GoCar sebagaimana ditirukan akun @desifyul.

Perselisihan di dalam kendaraan berlanjut hingga pengemudi memaksa penumpang untuk membatalkan pesanan di perjalanan.

"Dituruninnya tuh belum jauh dari Stasiun Tebet, baru mau naik ke arah Flyover Kokas, persisnya nama tempatnya enggak ngeh, tapi dekat plang jalan ke atas Kokas," kata pemilik akun @desifyul, Penumpang GoCar.

Pengemudi juga berulang kali melontarkan kata-kata kasar saat penumpang bersiap meninggalkan kendaraan.

"Lama-lama bikin kesel aja," ucap pengemudi GoCar kepada penumpang.

Pengemudi terus membentak penumpang agar segera keluar dari dalam mobil.

"Ya lu gua udah bilang, cancel-cancel! Tadi di telepon 'Cabut, cabut, cabut, cabut! Cabut! Cabut!'" kata pengemudi GoCar.

Selain melaporkan insiden tersebut, korban meminta pihak aplikator melakukan evaluasi terhadap skema tarif layanan hemat.

"Gue pengin banget semua aplikasi online tolong kaji ulang sistem tarif lu ke driver, terutama di fitur hemat, karena itu bukan merugikan driver aja, tapi juga merugikan gue sebagai customer," kata akun @desifyul, Penumpang GoCar.

Korban memastikan tidak ada komunikasi lebih lanjut dengan pengemudi setelah insiden tersebut ditangani pihak aplikator.

"Saya tidak terhubung dengan driver sama sekali (setelah kejadian)," kata pemilik akun @desifyul, Penumpang GoCar.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed