Iran dan India Soroti Penandatanganan Pakta Makkah Trilateral
Iran dan India merespons penandatanganan kesepakatan pertahanan kolektif Pakta Makkah yang dibuat oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada 7 Agustus 2026. Teheran menilai pakta ini sebagai sinyal menurunnya pengaruh Amerika Serikat, sementara New Delhi mencermati implikasi keamanannya.
Perjanjian keamanan trilateral tersebut menetapkan klausul pertahanan bersama, di mana agresi terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiga negara. Kesepakatan ini mengemuka di tengah dinamika konflik Iran-Amerika Serikat serta perubahan lanskap keamanan di kawasan Asia Barat.
Pemerintah Iran menyebut pimpinan pakta telah menyampaikan undangan bergabung yang saat ini tengah dalam proses peninjauan, meski Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan resmi.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei menilai pakta tersebut menunjukkan perubahan sikap negara-negara kawasan terhadap posisi Amerika Serikat di Timur Tengah.
"Amerika Serikat bilang ke mereka, 'Selamat tinggal, kami pergi'," kata Rezaei, dikutip Iran International pada Sabtu (22/8).
Rezaei mengungkapkan bahwa perwakilan anggota pakta sempat mendatangi Teheran untuk memberitahukan perihal penandatanganan kesepakatan tersebut.
"Teman kami datang dan bilang, 'kami sudah membuat pakta, datang dan setujui'," kata Rezaei.
Di sisi lain, pejabat media parlemen Iran mengonfirmasi masuknya undangan resmi bagi Teheran.
"Iran sudah menerima undangan untuk bergabung dengan Pejanjian Makkah dan masalah ini sedang ditinjau," kata Mehdi Rahim, Kepala kantor berita parlemen Iran.
Dari sudut pandang diplomasi, posisi Pakistan dalam pakta ini dinilai unik karena keterlibatannya dalam proses mediasi konflik sebelumnya.
Mantan Komisaris Tinggi India untuk Pakistan Ajay Bisaria menilai dampak kesepakatan tersebut terhadap dinamika geopolitik kawasan masih terbatas.
"Pakta Makkah tak lebih berharga dari kertas yang digunakan untuk menulisnya," kata Bisaria kepada DW.
Bisaria menambahkan bahwa perjanjian itu tidak membawa perubahan besar dibandingkan kesepakatan pertahanan sebelumnya.
"Pakta itu tidak banyak mengubah keadaan dibandingkan pakta pertahanan Saudi-Pakistan tahun lalu, sebuah pengaturan yang hanya terbukti memiliki nilai simbolis bagi Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Saat itu Riyadh sedang terguncang oleh rapuhnya payung keamanan Amerika," kata Bisaria.
Mantan pejabat keamanan India lainnya juga memandang tidak ada ancaman langsung terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan.
"India tidak perlu terlalu mengkhawatirkan pakta Mekkah. Arab Saudi dan Turki nyaris tidak melihat kami sebagai pesaing strategis atau 'musuh'," kata Tara Kartha, mantan anggota Sekretariat Dewan Keamanan Nasional India kepada DW.
Kartha menyebutkan bahwa kerja sama militer antara Pakistan dan Turki sebenarnya sudah berjalan lama sebelum kesepakatan ini diteken.
"Namun Pakistan dan Turki sudah memiliki hubungan pertahanan yang kuat, termasuk pengembangan bersama pesawat Kaan. Jadi, di lapangan sebenarnya tidak ada yang berubah, kecuali kemungkinan meningkatnya pendanaan bagi anggaran pertahanan Pakistan. Itu tentu masalah yang tidak mudah dihindari," kata Kartha.
Analis geopolitik menilai India tetap perlu mengantisipasi dinamika pertahanan trilateral tersebut dengan meningkatkan hubungan bilateral dengan Arab Saudi.
"Perbedaan kepentingan strategis di antara ketiga anggota dapat membatasi kekompakan pakta ini. Namun New Delhi harus memanfaatkan hubungannya sendiri dengan Riyadh untuk memperdalam kerja sama keamanan, intelijen, dan ekonomi," kata Harsh Pant, wakil presiden Observer Research Foundation kepada DW.
Pemerintah India mengonfirmasi bahwa peninjauan menyeluruh terhadap kesepakatan tersebut sedang berjalan.
"India tetap berkomitmen penuh untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan akan mengambil semua langkah yang diperlukan dalam hal ini," kata Randhir Jaiswal, juru bicara Kementerian Luar Negeri India.
Pengamat diplomasi menilai kesepakatan ini mencerminkan langkah Arab Saudi dalam melakukan diversifikasi kemitraan keamanan.
"Saya melihatnya lebih sebagai bukti bahwa negara-negara Arab masih belum mampu membangun sistem keamanan regional yang dapat diandalkan. Yang penting, ini menunjukkan Arab Saudi sedang melakukan lindung nilai terhadap ketidakpastian mengenai keandalan payung keamanan Amerika Serikat," kata C. Raja Mohan, pakar strategi dan profesor Kajian Amerika di Jindal Global University kepada DW.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow