Kaitkan HAARP dengan Erupsi Gunung Api, Pakar Tegaskan Tidak Masuk Akal

Smallest Font
Largest Font

Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia memicu munculnya asumsi warganet mengenai teknologi High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP. Dilansir dari Detik iNET, fasilitas penelitian di Alaska ini dikaitkan dengan klaim pemicuan erupsi gunung via gelombang elektromagnetik.

Fasilitas HAARP digunakan para ilmuwan untuk mempelajari ionosfer, yaitu lapisan atmosfer bumi bagian atas yang memengaruhi propagasi gelombang radio. Pusat riset ini memanfaatkan instrumen utama bernama Ionospheric Research Instrument atau IRI.

Perangkat IRI memiliki susunan 180 antena dipol silang berfrekuensi tinggi yang tersebar di lahan seluas 13 hektare. Instrumen tersebut sanggup memancarkan daya hingga 3,6 megawatt ke ionosfer pada rentang frekuensi 2,7 sampai 10 MHz.

Kompleks penelitian ini mempunyai 30 shelter pemancar yang masing-masing memuat enam pasang pemancar berdaya 10 kilowatt. Peneliti memanfaatkan gelombang tersebut untuk memanaskan elektron demi menghasilkan gangguan kecil terkontrol di ionosfer.

Riset ionosfer menjadi krusial karena lapisan atmosfer atas tersebut berdampak langsung pada komunikasi radio, jaringan GPS, sistem navigasi, serta teknologi penunjang cuaca antariksa.

Sejarah Pengelolaan HAARP

Program riset HAARP diinisiasi oleh Kongres Amerika Serikat sejak tahun 1990. Langkah ini diambil untuk memperdalam pemahaman terkait atmosfer atas bumi serta pengaruhnya terhadap perambatan gelombang radio.

Pengelolaan fasilitas dilakukan bersama oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat sepanjang 1990 hingga 2014. Pengoperasiannya difokuskan pada peningkatan sistem komunikasi maupun pengawasan untuk sektor sipil dan pertahanan.

Pembangunan fasilitas HAARP selesai secara menyeluruh pada tahun 2007. Hak pengelolaan peralatan penelitian tersebut kemudian diserahkan sepenuhnya kepada University of Alaska Fairbanks pada Agustus 2015.

Aktivitas ilmiah terus berlangsung di fasilitas tersebut hingga kini. University of Alaska Fairbanks bahkan menyelenggarakan Polar Aeronomy and Radio Science Summer School pada Agustus 2026 dengan melibatkan riset langsung di HAARP.

Pakar Bantah HAARP Bisa Picu Erupsi

Klaim yang mengaitkan HAARP dengan letusan gunung berapi dipastikan tidak berdasar. Pakar kegempaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, menegaskan tuduhan bahwa erupsi gunung api dipicu oleh senjata atau teknologi tertentu sama sekali tidak masuk akal dalam sains kebumian.

Proses pemicu erupsi berasal dari bagian dalam bumi. Magma terdorong naik oleh gaya apung karena massa jenisnya lebih rendah dari batuan sekitar, dipacu oleh akumulasi tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Sistem magma tersebut dapat menyimpan tekanan hingga puluhan megapascal, sementara kedalaman proses tektonik berada puluhan sampai ratusan kilometer di bawah tanah.

"Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," kata Daryono.

Gelombang radio HAARP ditembakkan ke ionosfer yang terletak pada ketinggian 60 hingga 500 kilometer di atas permukaan bumi. Kondisi ini berbalik arah dengan proses pembentukan magma yang terjadi jauh di dalam perut bumi.

Ketinggian aktivitas vulkanik di Indonesia murni dipengaruhi oleh letak geografisnya pada kawasan Ring of Fire. Wilayah Indonesia berada di titik pertemuan lempeng tektonik utama yang memicu penunjaman material ke mantel bumi.

Erupsi gunung tidak bisa dinyalakan seperti menekan tombol. Aktivitas pergerakan magma selalu memberikan sinyal geofisika yang terdeteksi, seperti gempa vulkanik, tremor, deformasi tubuh gunung, hingga perubahan suhu dan gas.

"Seluruh proses akumulasi massa dan energi ini membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan di dalam kerak bumi dan terekam secara transparan oleh instrumen geofisika global," kata Daryono.

Pihak University of Alaska Fairbanks menegaskan bahwa HAARP sekadar pemancar radio pemantau ionosfer. Gelombang radio yang dipancarkan tidak diserap oleh troposfer maupun stratosfer, sehingga fasilitas ini juga tidak memiliki kemampuan mengendalikan cuaca.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed