Pedagang Pasar Nangka Bungur Mengeluhkan Sepi Pembeli
Aktivitas perdagangan di Pasar Nangka Bungur, Kemayoran, Jakarta Pusat semakin lesu akibat penutupan akses utama dan menjamurnya pedagang kaki lima di area luar pasar, Senin (14/9/2026). Seperti dilansir dari Detik Finance, kondisi ini memicu banyaknya pedagang yang meninggalkan kios di dalam bangunan.
Penurunan jumlah pembeli dilaporkan mulai terjadi sejak tahun 2025. Lahan parkir pengunjung di bagian depan pasar mendadak dialihfungsikan menjadi area penampungan sementara bagi para pedagang dari Pasar Gardu Asem yang sedang menjalani proses renovasi.
Keberadaan bangunan penampungan tersebut menutupi pintu masuk utama serta mempersempit area parkir. Dampaknya, banyak konsumen langganan menyangka toko di dalam pasar sudah tutup atau pindah lokasi.
"Ada langganan bilang 'saya kira toko ini sudah nggak ada, soalnya saya cari sampai ujung jalan nggak ketemu', kaya gitu. Karena ini ketutupan penampungan, yang langganan pun juga kiranya sudah nggak ada toko di dalam," kata Narita, pedagang produk kecantikan.
Masalah lain muncul dari keberadaan pedagang kaki lima di sepanjang jalan depan pasar. Kehadiran mereka membuat pembeli bermotor enggan masuk ke dalam area bangunan pasar.
"Orang cuma pada belanja sampai di depan jalan situ saja, pada nggak mau masuk ke sini. Semua di depan itu pedagang kaki lima dibiarkan jualan apa saja ada, otomatis orang masuk malas. Pelanggan saya malas, bilang 'Bu, masuk ke dalam parkirnya ribet', nah mau gimana coba?" ujarnya.
Meski kondisi pasar sepi pengunjung, para pedagang tetap diwajibkan membayar iuran bulanan secara penuh tanpa adanya keringanan dari pihak pengelola.
"Ini kan saya iuran Rp 255.000 per bulan ya, harusnya kan pasar sepi diturunin kek jadi Rp 100.000 atau Rp 150.000, kan kalau gitu kita bisa sedikit nafas ya. Bisa ada untuk beli makan atau kebutuhan di rumah. Ini nggak," keluh Narita.
Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang berpindah ke tepi jalan. Bahkan, seluruh area pasar basah yang biasa menjajakan daging, ayam, dan ikan kini sepenuhnya kosong.
"Yang los-los daging segala macam, daging, ayam, ikan semuanya di luar, semuanya di luar," terangnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lain yang sebelumnya direlokasi dari Pasar Gardu Asem pada Agustus 2025 dan diminta mengisi area dalam pasar.
"Saya awalnya dari Pasar Gardu Asem, dipindah suruh isi yang penampungan di depan itu dari Agustus tahun kemarin. Cuma di dalam sini kosong, jadi di suruh masuk ke dalam," jelas Tuti, pedagang sembako.
Pendapatan pedagang merosot tajam meski beban iuran di dalam area pasar dinilai lebih tinggi dibanding tempat penampungan.
"Dari bulan Agustus, sudah setahun sepi begini. Sepi, paling dapat satu dua orang doang. Sama saja mau di penampungan atau di sini sepi semua. Paling bedanya di sana ukuran lebih kecil, sini kan lebaran dikit, tapi ya iurannya di sini jadi lebih tinggi juga," sambung Tuti lagi.
Fasilitas penunjang seperti mesin ATM di bagian dalam bangunan juga tidak mampu meningkatkan daya beli pedagang lokal.
"Di dalam sepi, nggak dapat duit. Diambil semua sama yang di depan. Karena kan kalau di depan mereka nggak usah parkir nggak usah apa ya, langsung naik motor berhenti, sudah. Di sini ada ATM, kadang orang suka masuk ambil duit atau apa, tapi nggak beli ke sini," jelasnya.
Selain iuran bulanan sebesar Rp277.500, pedagang juga masih dibebani biaya listrik penerangan yang berujung pada ancaman penutupan kios akibat tunggakan.
"Ini baru saya, benar dah, belum yang lain juga, apalagi toko-toko yang di atas, sama semua. Makanya kaya di belakang nih kan pada tutup semua, nggak kuat banyar iuran, makanya pada ditutup. Lihat saja itu ada tempelan-tempelannya," papar Tuti.
Para pedagang kini hanya bisa bertahan sembari menunggu rampungnya renovasi Pasar Gardu Asem dengan harapan pelanggan lama mereka dapat kembali berbelanja.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow