Ribuan Pelaut Kapal Induk USS Abraham Lincoln Singgah di Pattaya

Smallest Font
Largest Font

Aparat keamanan Thailand meningkatkan pengawasan dan merazia puluhan pekerja seks komersial di Pattaya menyusul kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln yang membawa sekitar 5.000 personel militer Amerika Serikat pada Rabu, 2 September 2026.

Kedatangan kapal induk bertenaga nuklir tersebut di Pelabuhan Laem Chabang menyusul selesainya rekor pengerahan uninterrupted selama 264 hari di laut. Selama sembilan bulan terakhir, armada ini dikerahkan dalam operasi tempur aktif dan blokade terhadap Iran di wilayah Timur Tengah.

Kondisi fisik Kapal USS Abraham Lincoln menjadi sorotan publik saat merapat karena tampak dipenuhi karat dari haluan hingga buritan akibat terpaan air laut tanpa perawatan rutin di dermaga.

Mantan Kapten Angkatan Laut AS Carl Schuster memberikan penjelasan teknis mengenai kondisi fisik kapal perang yang berlayar puluhan hari di laut lepas.

"Karat di sepanjang garis air bukanlah hal yang aneh pada kapal yang telah menjalani operasi secara terus-menerus di laut selama 60 hari atau lebih," kata Schuster, seperti dilaporkan CNN.

Proses pembersihan karat skala besar diakuinya tidak memungkinkan dilakukan saat kapal sedang berada dalam posisi bergerak atau menjalankan misi tempur aktif.

"Berdasarkan apa yang saya lihat, Anda melihat sekitar 30 hari pekerjaan pemeliharaan untuk menghilangkan semua karat," ujar Schuster.

Ia menambahkan bahwa penanganan karat pada konstruksi baja harus segera dilakukan agar tidak merusak komponen vital kapal.

"Karat itu seperti penyakit menular. Karat itu menyebar. Jadi, lebih baik menanganinya lebih awal untuk mengendalikannya atau menghadapi masalah yang jauh lebih besar nanti," kata Schuster.

Schuster juga mengungkapkan bahwa pekerjaan pemeliharaan tersebut tergolong sebagai salah satu tugas yang paling dihindari oleh para prajurit.

"Melawan karat adalah salah satu dari dua aktivitas Angkatan Laut yang paling tidak disukai. Satunya lagi adalah apa pun yang berkaitan dengan perpipaan. Sangat dibenci saat saya menjadi perwira muda di kapal," kata Schuster.

Di sisi lain, Komandan USS Abraham Lincoln Kapten Dan Keeler mengonfirmasi antusiasme jajarannya saat menjadikan Thailand sebagai tempat persinggahan resmi pertama.

"Kami semua sangat antusias menjadikan Thailand sebagai lokasi kunjungan pelabuhan pertama dalam penugasan bersejarah kami ini," ujar Keeler, dilansir dari CNN International.

Menanggapi tanggapan luar mengenai tampilan luar kapal yang memburu, Keeler memberikan perbandingan dengan kondisi kendaraan darat.

"Mobil kotor di tempat parkir," kata Keeler saat memberikan keterangan mengenai kondisi fisik kapal.

Terkait kondisi internal dan rumor mengenai penurunan moral para awak, Keeler menegaskan bahwa situasi di atas kapal tetap terkendali.

"Pemberitaan di tanah air dan apa yang sebenarnya terjadi di kapal," kata Keeler mengenai adanya perbedaan informasi.

Ia menyamakan adaptasi para pelaut muda dengan dinamika remaja yang baru memasuki dunia perkuliahan.

"Anak-anak yang untuk pertama kalinya dikirim pergi kuliah," ujar Keeler.

Keeler juga menyinggung isu politik domestik AS yang kerap memanfaatkan penugasan militer di luar negeri.

"Terseret dalam siklus pemilu dan diperlakukan seperti bola yang dilempar ke sana kemari," kata Keeler.

Mengenai rencana perjalanan lanjutan kelompok pemukul kapal induk tersebut menuju pangkalan di AS, Keeler memilih tidak merinci jadwal pastinya.

"Akan menuju ke rumah segera, tetapi mungkin membuat perhentian pasokan lebih lanjut," ujar Keeler, mengutip laporan Associated Press.

Pemerintah setempat bersama Kepolisian Pattaya memberlakukan aturan ketat bagi para prajurit yang turun ke darat, termasuk melarang kunjungan ke kawasan lampu merah Soi 6 dan toko ganja.

Kepala Kepolisian Pattaya Anek Srathongyoo menegaskan bahwa pihaknya terus menggencarkan penertiban terhadap praktik prostitusi ilegal di area publik.

"Kami melakukan yang terbaik, tetapi memang sulit," kata Srathongyoo, mengutip laporan Reuters.

Langkah pencegahan tersebut didukung oleh organisasi masyarakat sipil yang khawatir akan potensi eksploitasi di kota hiburan malam tersebut.

Pendiri organisasi antiperdagangan manusia Free Rain International Dianna Bautista mempertanyakan keputusan Angkatan Laut AS memilih Pattaya sebagai lokasi pendaratan ribuan prajurit.

"Kami berhati-hati dengan keputusan AS membawa 5.000 tentara ke ibu kota seks dunia setelah mereka berada di kapal selama 10 bulan," kata Bautista, seperti dikutip dari Newsweek.

Bautista menduga lokasi pelabuhan persinggahan tersebut telah direncanakan sejak awal oleh pihak militer.

"Dari ribuan tempat yang bisa menjadi lokasi kapal ini berlabuh, mereka memilih membawa pasukan ke sini. Rasanya sangat diperhitungkan dan disengaja," ujar Bautista.

Pemerintah kota setempat berupaya memanfaatkan momen penugasan militer ini sebagai penggerak roda ekonomi lokal yang sempat meredup.

Wali Kota Pattaya Poramase Ngampiches menyoroti keterikatan sejarah antara perkembangan kota bentukannya dengan kehadiran pasukan militer Amerika Serikat.

"Kunjungan para personel militer AS 50-60 tahun lalu memperkenalkan Pattaya ke dunia dan mengubahnya menjadi objek wisata," kata Poramase, dilansir dari BBC.

Mengenai pembatasan akses ke area tertentu bagi para prajurit, Poramase menegaskan bahwa regulasi tersebut sepenuhnya wewenang militer AS.

"Itu keputusan mereka. Militer AS telah melakukan riset mereka," ujar Poramase.

Para pelaut diberikan kesempatan beristirahat dan berbelanja di sejumlah pusat perbelanjaan hingga Minggu, 6 September 2026, sebelum kapal melanjutkan pelayaran kembali ke San Diego.

Salah satu anggota keluarga pelaut Shakeira Fairfax mengungkapkan kebahagiaannya bisa menyambut kedatangan putrinya setelah berbulan-bulan terpisah.

"Saya hanya tidak sabar untuk melihat senyumnya. Saya tidak sabar untuk mendengar 'ibu', saya tahu itulah hal pertama yang akan dia katakan," kata Fairfax, dilansir dari Reuters.

Seorang pemilik restoran di Pattaya Kosol Homkhunthod mengakui kehadiran para pelaut Amerika Serikat memberikan dampak positif bagi usahanya.

"Sangat lambat," kata Homkhunthod menggambarkan kondisi bisnisnya sebelum kedatangan armada kapal induk tersebut.

Namun, pemilik bar Kanta Saenkla menilai pola konsumsi para pelaut saat ini cenderung lebih hemat dibandingkan penugasan tahun-tahun sebelumnya.

"Merek belum benar-benar masuk untuk minum atau apa pun. Sebagian besar mereka hanya berjalan-jalan. Mereka tidak membelanjakan uang seperti yang mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya," kata Saenkla.

Seorang kru pelaut senior yang berada di Pattaya menceritakan kondisi kejenuhan para awak selama ratusan hari berada di tengah lautan.

"Berita mengatakan kita telah berada di laut selama sembilan bulan. Jujur saja saya lupa waktu," ujar pelaut senior tersebut kepada BBC.

Ia menggambarkan kondisi ruang gerak yang terbatas meski berada di atas kapal perang raksasa.

"Itu membosankan. Kapal ini tidak pernah cukup besar di atasnya. Kapal ini besar tetapi masih terasa seperti perahu, terutama ketika Anda membaginya dengan ribuan orang," kata pelaut tersebut.

Ketika ditanya mengenai estimasi waktu perjalanan pulang menuju markas mereka di California, pelaut itu memberikan tanggapan singkat.

"Terlalu lama," ujar pelaut itu.

Kunjungan kapal induk USS Abraham Lincoln di Thailand diimbangi dengan pengerahan dua kapal perang pendamping lain, yakni kapal perusak USS Frank E. Petersen Jr. di Pelabuhan Sriracha serta kapal penjelajah USS Robert Smalls di Rayong.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed