Zulkifli Hasan Sebut Kelalaian SPPG Penyebab Keracunan Massal MBG
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan kelalaian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam proses distribusi menjadi penyebab keracunan massal pada 748 penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandar Lampung.
Zulkifli menyebut kelalaian tersebut meliputi keterlambatan pengiriman makanan dan penempatan makanan secara sembarangan yang menyebabkan keracunan akibat makanan tidak dikonsumsi sesuai batas waktu aman.
"Karena gini, dapur bagus, semua bagus, tapi budaya, budaya ya. Misalnya masak, harusnya dikirim jam 6, mungkin bangunnya kesiangan, dikirimnya jam 11 (siang) itu menimbulkan keracunan, kalau masak jam 6, makannya jam 11," ujar Zulkifli Hasan di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Ia menjelaskan ada batas waktu tertentu antara memasak, distribusi, hingga konsumsi yang harus dipatuhi agar makanan aman dikonsumsi. Penempatan makanan yang salah juga menjadi faktor penting dalam kasus ini.
"Ada juga misalnya distribusi naruhnya sembarangan. Ini kan menyangkut banyak kebiasaan kita, karena ini kan menyangkut 60 juta orang, ini yang kita lagi tertibkan," tambahnya.
Zulkifli menegaskan pihak yang lalai dalam pelaksanaan program harus ditindak tegas tanpa toleransi dan mengganti petugas yang terlibat.
"Itu kan murni kesalahan manusia, bisa juga kelalaian atau sengaja. Saya minta ditindak tegas, enggak boleh ada toleransi," katanya.
Dia juga menyampaikan bahwa operasional dapur MBG sudah dicek dan dalam kondisi baik, namun masalah muncul saat distribusi yang tidak tepat waktu.
"Udah dicek, dapurnya bagus. Tapi tadi udah selesai masak, harus dikirim, enggak dikirim," ujar Zulkifli.
Soal kemungkinan proses hukum, Zulkifli menyatakan tindakan akan disesuaikan dengan bentuk kesalahan, baik sengaja maupun kelalaian, termasuk pemecatan bagi yang lalai.
"(Proses Hukum?) Lihat nanti kesalahannya, kalau sengaja, kalau lalai ya dipecat," katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayor Jenderal TNI Trenggono menyampaikan bahwa dari 748 santri terdampak, sebagian besar sudah kembali ke pondok setelah perawatan medis.
Dia juga menginformasikan bahwa operasional SPPG Kali Tengah di Sidoarjo telah ditangguhkan untuk investigasi dan evaluasi atas dugaan kelalaian dan ketidakpatuhan terhadap prosedur standar operasional.
"Kami sudah mencopot kepala dapur dan akan memeriksa penerapan prosedur standar untuk mengetahui penyebab kejadian," ujar Trenggono.
Kejadian keracunan massal ini merupakan bagian dari pola berulang sejak program MBG berjalan pada 2025 hingga awal September 2026, dengan ribuan korban tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebutkan 43.838 orang menjadi korban keracunan MBG di 36 provinsi, sementara Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus.
Mayoritas korban adalah anak sekolah yang mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, pusing, lemas, hingga dehidrasi.
Menurut sumber, lebih dari 80 persen kasus keracunan disebabkan pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengolahan dan distribusi makanan MBG.
Faktor penyebab termasuk memasak terlalu awal, penyimpanan lama, distribusi melewati waktu aman, serta bahan baku yang tidak higienis dengan temuan bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow