AS dan Israel Sepakati Jenderal AS Awasi Demiliterisasi Hamas di Gaza

Smallest Font
Largest Font

Utusan khusus Amerika Serikat Jared Kushner dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyepakati penyerahan senjata Hamas akan diawasi oleh jenderal militer AS pada Senin (17/8/2026) di Jerusalem. Pertemuan ini bertujuan mengurai kebuntuan rencana perdamaian Gaza.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah Kushner menggelar pertemuan tingkat tinggi selama dua hari di Mesir dan Israel. Utusan AS itu menegaskan bahwa rekonstruksi wilayah Gaza tidak akan diizinkan sebelum seluruh proses demiliterisasi rampung sepenuhnya.

Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi dibentuknya dua kelompok kerja yang masing-masing berfokus pada demiliterisasi serta penanganan krisis air bersih dan sanitasi. Israel dan Badan Perdamaian AS menegaskan demiliterisasi harus mendahului pembangunan kembali Gaza.

Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News, Kushner memberikan peringatan tegas kepada kelompok militan tersebut untuk segera melucuti senjatanya sesuai komitmen awal.

"Jika mereka tidak menindaklanjuti komitmen mereka sekarang, semua orang akan melihat bahwa mereka tidak tulus tentang perdamaian, dan kemudian Israel akan mendapat jauh lebih banyak dukungan dari AS dan pihak lain untuk pergi dan menyelesaikan tugas tersebut dengan cara yang tepat," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Utusan AS itu membeberkan bahwa pembicaraannya dengan perwakilan Hamas di Kairo berlangsung sangat ramah meski penuh kewaspadaan.

"Masa depan akan membuktikan apakah hal itu bakal diterapkan," ujar Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Kushner menambahkan bahwa pemerintah AS dan pihak terkait dapat segera melihat perkembangan nyata dalam kurun waktu singkat.

"Kita bisa melihat kemajuan, Anda tahu, dalam waktu singkat 30 hari," tutur Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia memaparkan tenggat waktu yang lebih spesifik mengenai proses perlucutan senjata serta penghancuran infrastruktur bawah tanah di Gaza.

"Mudah-mudahan, mulai mengeluarkan beberapa senjata, dan mudah-mudahan, Anda tahu, menimbun beberapa terowongan juga dalam 60 hingga 90 hari ke depan," ucap Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Menurutnya, penyerahan senjata secara sukarela tersebut menjadi pencapaian luar biasa bagi stabilitas kawasan.

"Bagi Israel, kami pikir ini adalah situasi yang saling menguntungkan karena jika Hamas benar-benar menyerahkan senjata dan terowongan secara sukarela selama 60 hingga 90 hari ke depan, itu jelas akan menjadi penghapusan ancaman keamanan yang sangat besar bagi Israel, sebuah pencapaian yang hampir tidak terbayangkan," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia juga menegaskan komitmen AS untuk menahan bantuan rekonstruksi sebelum syarat keamanan terpenuhi.

"Kami memiliki rencana untuk membangun kembali Gaza, tetapi kami tidak akan membiarkan Gaza dibangun kembali sampai demiliterisasi terjadi," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Kushner menjelaskan alasan ekonomi dan keamanan di balik keputusan tegas Washington tersebut.

"Tidak ada yang ingin menanamkan lebih banyak uang ke tempat yang sudah berlangsung begitu lama jika itu hanya akan dikuasai oleh teroris atau diledakkan lagi," ujar Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Pihaknya memastikan hak pertahanan diri Israel tetap terjamin selama proses transisi berjalan.

"Kami juga tidak akan membatasi hak Israel untuk membela diri jika ada ancaman yang memicu bahaya nyata," tutur Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia mengakui perang panjang telah menguras emosi dan fisik warga di kawasan tersebut.

"Israel memiliki keinginan yang kuat untuk hidup dalam perdamaian," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Kushner menilai masyarakat kawasan tersebut sudah jenuh dengan konflik yang berlarut-larut.

"Mereka telah melalui tiga tahun perang. Ini sangat, sangat berat bagi negara ini, sangat berat bagi rakyatnya. Saya pikir ada banyak emosi di Israel dan di kawasan ini," ujar Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia melihat adanya kerinduan bersama akan masa depan yang lebih stabil.

"Saat saya bepergian di sekitar kawasan ini, saya merasa orang-orang sudah lelah dengan perang. Saya pikir mereka siap untuk sesuatu yang baru," tutur Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Namun, ia menyoroti sulitnya membangun kembali kepercayaan yang telah runtuh.

"Tapi terkadang itu sulit. Anda tahu, siapa yang akan mengambil langkah pertama, dan bagaimana Anda membangun kepercayaan ketika begitu sedikit kepercayaan yang sekarang telah terkikis?" kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Meskipun demikian, Kushner tetap optimis terhadap kepemimpinan Presiden Trump dalam menjembatani kesepakatan ini.

"Mereka mengatakan semua hal yang benar, tetapi tentu saja, sangat, sangat sulit untuk memercayai sebuah organisasi teroris yang melakukan kekejaman mengerikan ini," ujar Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa pendekatan didasarkan pada bukti tindakan nyata di lapangan.

"Tapi kami melakukan pertemuan yang sangat ramah, dan mereka mengatakan semua hal yang benar, jadi kami akan memberi mereka kesempatan untuk melaksanakannya," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Kushner menggarisbawahi harapan besar agar kesepakatan tersebut dapat terealisasi secara bertahap.

"Ini harus didasarkan pada tindakan dan langkah-langkah, dan saya berharap itu akan menjadi kenyataan," tutur Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Ia meyakini kepemimpinan AS mampu mewujudkan diplomasi sulit tersebut.

"Kami melihat banyak indikasi positif, dan Presiden Trump telah melakukan mukjizat sebelumnya di Timur Tengah," ujar Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Kushner mengakhiri pernyataannya dengan menekankan tekad Presiden Trump.

"Dia sangat berkomitmen untuk terus melakukan hal-hal yang menurut orang lain tidak mungkin," kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump sendiri mengimbau agar serangan ke wilayah Gaza segera dihentikan.

"Warga Israel seharusnya tidak melakukan serangan di Gaza. Hamas telah setuju untuk meletakkan senjata mereka," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, penolakan keras terhadap rencana perdamaian AS-Hamas muncul dari internal kabinet Israel. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyerukan tindakan militer tanpa kompromi.

"Bukan rahasia lagi bahwa saya tidak setuju dengan perdana menteri," kata Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Ben-Gvir secara terbuka mendorong peningkatan serangan terarah di Gaza.

"Saya pikir kita perlu melakukan pembunuhan terarah di Gaza—menghabisi 30 atau 40 orang setiap malam," ujar Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Ia menegaskan target pembunuhan tidak terbatas pada ancaman langsung.

"Bukan hanya mereka yang menimbulkan ancaman bagi Anda pada saat tertentu," tutur Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Politikus sayap kanan itu mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait warga di Gaza.

"Ada orang-orang di sana yang bukan manusia. Mereka tidak layak untuk hidup. Mereka bahkan bukan manusia. Saya memuji mereka dengan menyebut mereka manusia," kata Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Ben-Gvir juga mengklaim seluruh wilayah enclave tersebut merupakan milik Israel.

"Saya melihat seluruh Gaza adalah milik kita," ujar Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Sejak gencatan senjata disepakati pada Oktober tahun lalu, serangan udara Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 1.200 orang menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedangkan militer Israel mencatat empat prajuritnya tewas. Secara keseluruhan, perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed