Kemendikdasmen Dorong Penguatan Literasi Lewat Hari Aksara 2026
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Peringatan Hari Aksara Internasional ke-60 pada Selasa (8/9/2026) secara daring untuk mengajak masyarakat menguatkan literasi, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Peringatan tahun 2026 ini mengusung tema "Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera" (3S) sekaligus menandai dimulainya Bulan Literasi Nasional sepanjang September 2026. Pemerintah menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam membina kemampuan membaca dan memahami kehidupan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan bahwa penguatan literasi warga tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Berbagai elemen seperti keluarga, satuan pendidikan, pemerintah daerah, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), hingga komunitas literasi memegang peranan krusial.
"Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para pegiat literasi di PKBM, SKB, Taman Bacaan Masyarakat, Forum Asosiasi PNFI, dan komunitas literasi di seluruh Indonesia," tutur Menteri Mu'ti dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Sektor swasta, media, perguruan tinggi, serta asosiasi Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) juga disebut memiliki peranan strategis dalam menjangkau wilayah pelosok.
"Kalian adalah garda terdepan yang menghidupkan literasi di tengah masyarakat, di pelosok desa, di ruang belajar sederhana, dan di tengah segala keterbatasan yang ada," sambungnya.
Momen ini diisi dengan pelaksanaan Bulan Literasi Nasional sepanjang September 2026 yang diisi berbagai kegiatan aplikatif di tingkat daerah.
"Kegiatan dapat sederhana, tetapi harus kita rancang sedemikian rupa sehingga dekat dengan persoalan masyarakat, menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, melibatkan warga belajar, keluarga, dan komunitas," ucap Mu'ti.
Edukasi literasi diharapkan tidak berhenti pada pemahaman aksara semata, melainkan membentuk moralitas dan kesejahteraan sosial.
"Saya mengajak kita semua untuk menjadi manusia-manusia yang literit, manusia yang tidak hanya memiliki literasi aksara, tetapi juga literasi moral, dan literasi yang bermanfaat bagi kehidupan sesama dan kesejahteraan semesta," katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning terus didorong oleh pihak kementerian.
"Kita tentu saya berusaha menjadi pembaca yang baik, tetapi juga menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik. Mari kita jadikan literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca kata, tetapi kemampuan untuk membaca kehidupan, dan mengubahnya menjadi lebih baik," tekan Mu'ti.
Dukungan senada disampaikan oleh pihak pejabat kementerian lainnya yang menilai tolok ukur keberhasilan literasi terletak pada perubahan nyata di masyarakat.
"Mari kita jadikan September 2026 sebagai momentum dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan," ungkap tatang.
Inisiatif ini dirancang sebagai landasan jangka panjang agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Literasi untuk Semesta, Sesama, dan Sejahtera (3S) bukan sekedar tema. Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita untuk Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera," sambungnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow